Mengambil makna dari kata IKHLAS

Mengikhlaskan rasamu mungkin terdengar sangat klise bukan? Aku menganggapnya seperti itu. Terkadang aku sempat bertanya dalam hatiku sendiri mengapa seseorang yang benar-benar mencintaimu bisa melepaskan dirimu begitu saja ? bukankah cinta itu di perjuangkan bukan menyerah bersama? Aku bahkan sempat tidak percaya dengan ungkapan kata cinta tak harus memiliki ? karena dalam benakku mengapa tak bisa memiliki? Sekali lagi, aku dengan keras kepalaku kekeh dengan pemikiranku itu, jika cinta itu proses yang harus diperjuangkan oleh dua orang bukan hanya aku, kamu, tapi kita, ya kita yang harus memperjuangkan itu bersama. Waktupun berjalan dengan cepat hingga pada akhirnya pemikiranku tentang berjuang bersama itu semakin lama semakin pudar. Aku pernah berjuang dalam satu haubungan pada akhirnya hubungan itupun berakhir , sempat aku tak percaya dengan hal itu karena nyatanya aku sudah berjuang dengan cintaku itu. Tapi, pada akhirnya hubungan itupun berakhir juga. Pemikiranku tentang cinta yang tak harus memiliki semakin lama semakin menjalar di otakku. Kamu tahu perasaanku saat itu? Perasaan dimana hari itu, dimana waktu itu, dan dimana senja itu? Kita duduk bersama dan percakapan hangatpun di mulai, suasana yang memang hangat tapi, tidak dengan topik percakapan kita yang sedang kita bicarakan. Aku mendengarkan semua keluhkesahmu dengan semua kesalahanku dan kamupun mendengar semua rasa kekecewaanku yang ku rasa saat itu. Sungguh, aku masih teringat detail kata yang di ucapkannya. Kita, memilih untuk menyerah. Entah mengapa, keteguhan ku dari makna berjuang bersama itu hilang. Mungkin aku sudah terlalu lelah dengan pemikiranku, dan kekhawatiranku tentang dia dan cinta. Kamu tahu perasaanku seperti apa? Ketika cinta yang pernah kamu perjuangkan akhirnya pergi bersama dengan kata menyerah.
Waktu-waktu terlewati, rasa penyesalanpun pernah menghinggapiku. aku yang menyesal mengapa aku menyerah begitu saja dengan cintaku saat itu. Tapi allah memberiku kepercayaan kembali bahwa pilihan yang sudah aku pilih itu benar karena hubungan yang pernah aku jalanin bukanlah cinta melainkan hanya kebahagian sesaat, karena cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang di ridhoi allah dengan jalan yang baik, bukan hubungan sementara seperti itu, dan aku harus belajar untuk mengikhlaskan cintaku itu. Walaupun, aku tau itu tak semudah kata-kata ikhlas yang kuucapkan. Setelah beberapa minggu terlewati dengan suasana baru di hidupku tanpa seseorang yang selalu aku ingatkan untuk dhuha bersama lagi, aku melewati hariku seperti orang-orang lain. Galau? Sedih? Itu jelas aku rasakan itu. Hingga pada akhirnya akupun di beri kesibukan untuk menjalankan magang kerja, aku tahu itu cara allah menghibur aku, agar aku lupa dengan cinta yang pernah ku perjuangkan. Allah itu Maha Adil sangat-sangat adil. Aku percaya ketika kita memilih memutuskan hubungan yang tidak allah ridhoi allah akan menggantinya dengan kebahagiaan yang manis. Walaupun perasaan yang aku miliki masih sama tapi aku percaya suatu hari nanti apa yang aku percayai sebagai cintaku akan datang kembali bukan untuk menjadikan diriku kekasih tak halalnya tapi akan menjadikan diriku kekasih halalnya entah siapapun ia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Diam

Awal dari sebuah keputusan

Sadarlah hati